Opini > Refleksi

Memaafkan: Dilema Ego dan Semeleh

Kamis, 8 Oktober 2026 18:53:13

M
MONIKA LAVINA PRATOMO Tim Kediriin - Kamis, 8 Oktober 2026 18:53:13

keterangan : Memaafkan: Dilema Ego dan Semeleh

Ada luka yang tidak lagi terlihat, tetapi masih terasa setiap kali kita mengingatnya. Ada perkataan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi emosi yang dirasakan dapat bertahan bertahun-tahun. Ada pula tindakan seseorang yang telah lama berlalu, tetapi tanpa disadari masih memengaruhi cara kita memandang orang tersebut, bahkan cara kita memandang diri sendiri. Pengalaman interpersonal yang menyakitkan dapat menjadi ancaman terhadap rasa berharga seseorang dan memengaruhi cara individu merespons pelaku maupun pengalaman tersebut (Eaton et al., 2006).


Dalam kehidupan sosial, konflik merupakan sesuatu yang sulit dihindari. Kita bisa menyakiti orang lain, baik dengan sengaja maupun tanpa menyadarinya. Sebaliknya, kita pun dapat menjadi pihak yang terluka oleh perkataan, sikap, atau tindakan orang lain. Pada titik inilah memaafkan menjadi tidak sesederhana mengucapkan, “Aku sudah memaafkanmu.” Dalam psikologi, memaafkan sendiri dapat dipahami melalui dimensi yang berbeda, termasuk keputusan untuk memaafkan (decisional forgiveness) dan perubahan emosional terhadap pelaku (emotional forgiveness) (Cowden et al., 2025).


Kita mungkin memahami bahwa setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Namun, memahami kesalahan seseorang tidak serta-merta menghapus rasa sakit yang kita alami. Dalam proses memaafkan, respons dari pelaku, termasuk permintaan maaf, dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses emosional maupun keputusan seseorang untuk memaafkan (Kwiatkowska et al., 2021). 

Ada bagian dalam diri kita yang tetap ingin mendapatkan pengakuan: bahwa kita memang telah disakiti, bahwa apa yang terjadi bukan sesuatu yang sepele, dan bahwa orang yang menyakiti kita seharusnya menyadari konsekuensi dari tindakannya. Di sinilah ego mengambil peran.


Dalam tulisan ini, ego digunakan sebagai bahasa reflektif untuk menggambarkan dorongan mempertahankan harga diri dan kebutuhan agar luka kita diakui. Dalam psikologi, pengalaman interpersonal yang menyakitkan dapat mengancam nilai diri dan memunculkan respons defensif, seperti menghindari pelaku, menyimpan dendam, atau keinginan membalas (Eaton et al., 2006)


Namun, persoalannya muncul ketika pengakuan dari orang lain menjadi sesuatu yang terus kita tunggu. Kita menanti permintaan maaf yang mungkin tidak pernah datang. Kita menunggu penyesalan dari seseorang yang mungkin bahkan tidak merasa bersalah. Kita berharap orang lain berubah agar kita dapat merasa tenang. Pada akhirnya, ketenangan kita berada di tangan orang lain.


Di titik inilah konsep semeleh menjadi menarik untuk direnungkan.

Dalam artikel ini, semeleh, semeleh saya gunakan sebagai istilah reflektif untuk menggambarkan sikap menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali diri. Namun, semeleh bukan berarti pasrah terhadap segala keadaan. Ia bukan pula pembenaran terhadap perlakuan buruk.


Semeleh justru dapat dipahami sebagai keberanian untuk berkata kepada diri sendiri: ada hal-hal yang tidak dapat aku ubah, termasuk pilihan, sikap, dan penyesalan orang lain. Kita tidak dapat memaksa seseorang meminta maaf. Kita tidak dapat memaksa seseorang memahami luka yang telah ia sebabkan. Kita juga tidak dapat mengubah masa lalu. Yang masih berada dalam kendali kita adalah bagaimana kita memilih untuk hidup setelah semua itu terjadi.


Semeleh dalam tulisan ini memiliki kemiripan dengan konsep penerimaan dan jarak psikologi dalam ilmu psikologi, meskipun keduanya tidak dapat dianggap identik. Cowden et. al. (2025) menjelaskan bahwa dalam kerangka stress-and-coping, penerimaan dapat melibatkan jarak psikologi dari situasi yang menimbulkan tekanan agar seseorang dapat melanjutkan hidup. Mereka juga membedakan penerimaan dari memaafkan.

Namun, apakah semeleh berarti kita harus menerima semua perlakuan orang lain?

Tidak.


Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang dilakukan seseorang adalah benar. Memaafkan juga bukan berarti menghapus konsekuensi dari sebuah kesalahan. Memaafkan tidak harus berarti menghilangkan akuntabilitas pelaku atau mengharuskan korban kembali ke relasi sebelumnya (Cowden et al., 2025; Wu et al., 2021). Kita tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu telah menyakiti kita. Kita tetap berhak kecewa, marah, atau membutuhkan waktu untuk pulih. Kita bahkan tetap berhak menetapkan batas. 


Bentuk memaafkan yang sehat tidak selalu berarti kembali mendekat, melainkan dapat pula berarti memilih untuk menjaga jarak. Penelitian mengenai memaafkan pada penyintas kekerasan dalam relasi menunjukkan bahwa memaafkan tidak selalu melibatkan rekonsiliasi, dan penetapan batas dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan (Wu et al., 2021).. Bukan kembali percaya, melainkan menerima bahwa kepercayaan yang pernah rusak mungkin membutuhkan waktu, atau bahkan tidak perlu dikembalikan. Bukan membuka kembali pintu yang sama, melainkan menutupnya dengan tenang tanpa terus-menerus membawa kemarahan di dalam diri. Sebab memaafkan tidak selalu berarti melupakan.


Kita boleh mengingat tanpa harus terus terluka. Kita boleh mengetahui bahwa seseorang pernah menyakiti kita tanpa menjadikan kesalahan tersebut sebagai pusat kehidupan kita. Kita boleh mengambil pelajaran tanpa harus terus membawa dendam. Dan kita boleh melanjutkan hidup tanpa menunggu orang lain memberikan penutup cerita yang kita inginkan. Penelitian menunjukkan bahwa pengampunan emosional dapat berkaitan dengan meningkatnya jarak psikologi dari pengalaman pelanggaran dan perubahan dalam proses mengingatnya (Noreen & MacLeod, 2021).


Di sinilah pergulatan antara ego dan semeleh menjadi menarik.

Ego berkata, “Dia harus menyadari kesalahannya.”

Semeleh berkata, “Aku tidak dapat mengendalikan kesadarannya.”

Ego berkata, “Dia harus meminta maaf agar aku bisa tenang.”

Semeleh berkata, “Ketenanganku tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada permintaan maafnya.”

Ego berkata, “Aku ingin dia tahu betapa sakitnya aku.”

Semeleh berkata, “Aku tahu bahwa aku pernah terluka, dan itu sudah cukup untuk membuatku memilih bagaimana aku akan melanjutkan hidup.”


Mungkin, di sinilah memaafkan menemukan maknanya. Memaafkan bukan semata-mata membebaskan orang lain dari kesalahannya. Dalam perspektif yang digunakan dalam tulisan ini, memaafkan dapat dipandang sebagai proses melepaskan keterikatan emosional terhadap pelanggaran tanpa harus menyangkal bahwa pelanggaran tersebut pernah terjadi. Kita tidak mengubah masa lalu dengan memaafkan. Kita juga tidak membuat kesalahan seseorang menjadi benar. Yang berubah adalah hubungan kita dengan pengalaman itu (Cowden et al., 2025; Noreen & MacLeod, 2021).


Luka tetap pernah ada, tetapi luka tidak lagi harus menentukan ke mana kita melangkah. Karena itu, memaafkan bukan tanda kelemahan. Terkadang justru dibutuhkan keberanian yang besar untuk melepaskan sesuatu yang selama ini kita genggam erat. Dibutuhkan keberanian untuk berhenti menunggu permintaan maaf. Dibutuhkan keberanian untuk menerima bahwa tidak semua cerita mendapatkan penutup yang ideal. Dan dibutuhkan keberanian untuk memilih ketenangan tanpa harus mendapatkan kemenangan atas orang lain.


Mungkin semeleh bukan tentang menyerah. Mungkin semeleh adalah ketika kita berhenti memaksa sesuatu yang memang berada di luar kendali kita, lalu perlahan mengambil kembali kendali atas diri sendiri. Sebab pada akhirnya, memaafkan bukan tentang mengatakan, “Tidak apa-apa, kamu tidak melakukan kesalahan.” Memaafkan bisa berarti mengatakan: “Apa yang kamu lakukan memang menyakitiku. Aku tidak menyangkalnya. Aku tidak membenarkannya. Tetapi aku juga tidak ingin kesalahanmu terus menentukan bagaimana aku menjalani hidupku.”

Barangkali, di situlah ego dan semeleh akhirnya menemukan titik temu: bukan ketika kita melupakan luka, melainkan ketika kita mampu mengingatnya tanpa lagi hidup di dalamnya.


Daftar Pustaka : 


Cowden, R. G., Worthington, E. L., Jr., Chung, C. A., & Chen, Z. J. (2025). Differential effects of decisional and emotional forgiveness on psychological, spiritual, social, volitional, and physical well-being: A scoping review. Healthcare, 13(9), 992. https://doi.org/10.3390/healthcare13090992 


Eaton, J., Struthers, C. W., & Santelli, A. G. (2006). Dispositional and state forgiveness: The role of self-esteem, need for structure, and narcissism. Personality and Individual Differences, 41(2), 371–380. https://doi.org/10.1016/j.paid.2006.02.005 


Kwiatkowska, A., et al. (2021). The effect of apology on emotional and decisional forgiveness: The role of personality. Personality and Individual Differences, 168, 110310. https://doi.org/10.1016/j.paid.2020.110310 


Noreen, S., & MacLeod, M. D. (2021). Moving on or deciding to let go? A pathway exploring the relationship between emotional and decisional forgiveness and intentional forgetting. Journal of Experimental Social Psychology, 93, 104076. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2020.104076 


Wu, Q., Wang, L., & Choi, A. W.-M. (2021). Understanding forgiveness after leaving an abusive relationship: The voices of Chinese female intimate partner violence survivors. Violence Against Women, 27(12–13), 2273–2293. https://doi.org/10.1177/1077801220952164 


  • 0
  • 0
  • 0

Berita Terkait

berita tidak ada